This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 01 Mei 2012

DESA WISATA


Desa wisata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata BudayaYogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)

Komponen Utama Desa Wisata

[sunting]Terdapat dua konsep yang utama dalam komponen desa wisata 

1. Akomodasi : sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.
2. Atraksi : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik.
Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach, hal. 166 memberikan definisi : Village Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment. Inskeep : Wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.

[sunting]Pendekatan Pengembangan Desa Wisata

Pengembangan dari desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasar dari penelitian dan studi-studi dari UNDP/WTO dan beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata.

[sunting]Pendekatan Pasar untuk Pengembangan Desa Wisata

[sunting]Interaksi tidak langsung

Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos dan sebagainya.

[sunting]Interaksi setengah langsung

Bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.

[sunting]Interaksi Langsung

Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua. (UNDP and WTO. 1981. Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia. Madrid: World Tourism Organization. Hal. 69)

[sunting]Kriteria Desa Wisata

Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria yaitu :
  1. Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa.
  2. Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukotaprovinsi dan jarak dari ibukota kabupaten.
  3. Besaran Desa; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
  4. Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada.
  5. Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.
Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.

[sunting]Pendekatan Fisik Pengembangan Desa Wisata

Pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan sebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi.
  1. Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut. Contoh pendekatan dari tipe pengembangan model ini adalah Desa Wisata di Koanara, Flores. Desa wisata yang terletak di daerah wisata Gunung Kelimutu ini mempunyai aset wisata budaya berupa rumah-rumah tinggal yang memiliki arsitektur yang khas. Dalam rangka mengkonservasi dan mempertahankan rumah-rumah tersebut, penduduk desa menempuh cara memuseumkan rumah tinggal penduduk yang masih ditinggali. Untuk mewadahi kegiatan wisata di daerah tersebut dibangun juga sarana wisata untuk wisatawan yang akan mendaki Gunung Kelimutu dengan fasilitas berstandar resor minimum dan kegiatan budaya lain.
  2. Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata. Contoh pendekatan pengembangan desa wisata jenis ini adalah Desa Wisata Sade, di Lombok.
  3. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah desa tersebut yang dioperasikan oleh penduduk desa tersebut sebagai industri skala kecil. Contoh dari bentuk pengembangan ini adalah Desa wisata Wolotopo di Flores. Aset wisata di daerah ini sangat beragam antara lain : kerajinan tenun ikat, tarian adat, rumah-rumah tradisional dan pemandangan ke arah laut. Wisata di daerah ini dikembangkan dengan membangun sebuah perkampungan skala kecil di dalam lingkungan Desa Wolotopo yang menghadap ke laut dengan atraksi-atraksi budaya yang unik. Fasilitas-fasilitas wisata ini dikelola sendiri oleh penduduk desa setempat. Fasilitas wisata berupa akomodasi bagi wisatawan, restaurant, kolam renang, peragaan tenun ikat, plaza, kebun dan dermaga perahu boat.

[sunting]Prinsip dasar dari pengembangan desa wisata

  1. Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanan di dalam atau dekat dengan desa.
  2. Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk desa, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki.
  3. Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu “sifat” budaya tradisional yang lekat pada suatu desa atau “sifat” atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut.

[sunting]Jenis Wisatawan Pengunjung Desa Wisata

Karena bentuk wisata pedesaan yang khas maka diperlukan suatu segmen pasar tersendiri. Terdapat beberapa tipe wisatawan yang akan mengunjungi desa wisata ini yaitu :

[sunting]Wisatawan Domestik

Wisatawan domestik ; terdapat tiga jenis pengunjung domestik yaitu :
  1. Wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal di daerah dekat desa tersebut. Motivasi kunjungan : mengunjungi kerabat, membeli hasil bumi atau barang-barang kerajinan. Pada perayaan tertentu, pengunjung tipe pertama ini akan memadati desa wisata tersebut.
  2. Wisatawan dari luar daerah (luar propinsi atau luar kota), yang transit atau lewat dengan motivasi, membeli hasil kerajinan setempat.
  3. Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalanan wisata ke daerah tertentu, dengan motivasi mengunjungi daerah pedesaaan penghasil kerajinan secara pribadi.

[sunting]Wisatawan Manca Negara

  1. Wisatawan yang suka berpetualang dan berminat khusus pada kehidupan dan kebudayaan di pedesaan. Umumnya wisatawan ini tidak ingin bertemu dengan wisatawan lainnya dan berusaha mengunjungi kampung dimana tidak begitu banyak wisatawan asing.
  2. Wisatawan yang pergi dalam grup (di dalam suatu biro perjalanan wisata). Pada umumnya mereka tidak tinggal lama di dalam kampung dan hanya tertarik pada hasil kerajinan setempat.
  3. Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup di dalam kampung dengan motivasi merasakan kehidupan di luar komunitas yang biasa dihadapinya.

[sunting]Tipe Desa Wisata

Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya desa atau kampung wisata di Indonesia sendiri, terbagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka.

[sunting]Tipe terstruktur (enclave)

Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut :
  1. Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional.
  2. Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini.
  3. Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang integratif dan terkoordinasi, sehingga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama untuk “menangkap” servis-servis dari hotel-hotel berbintang lima.
Contoh dari kawasan atau perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Nusa DuaBali dan beberapa kawasan wisata di Lombok. Pedesaan tersebut diakui sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga pada tingkat internasional.Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa.

[sunting]Tipe Terbuka (spontaneus)

Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

Sabtu, 17 Maret 2012

Kapal Pesiar Temegah Didunia


The Royal Carribean International Salah Satu Kapal Pesiar Termegah Didunia

Wisata-JP : Sebagai kapal pesiar terbesar di dunia, The Royal Carribean International berhasil menyabet peringkat pertama. Kapal ini tidak sekedar mewah, tapi juga membawa sensasi kota di tengah laut. Bagaimana tidak, Anda bisa melakukan berbagai kegiatan di sini. Dari makan malam di restoran romantis, nonton bioskop 3 dimensi, sampai memanjat tebing. Pesiar ini juga menyediakan paket menarik untuk anak-anak yang bekerja sama dengan studio animasi Dreamworks. Bermain bersama Shrek atau Pinguins of Madagascar tentu bisa membuat anak Anda betah di kapal.
Kamar-kamar di pesiar ini memiliki standar hotel bintang lima yang menyediakan berbagai jenis kamar. Dari kamar dengan balkon sampai kamar yang dilengkapi dengan grand piano. Dijamin tidak akan menyesal berlayar dengan kapal yang bermuatan 5.400 penumpang ini, karena Anda bisa memaksimalkan setiap menit yang dihabiskan di sana.

Rabu, 18 Januari 2012

Syair, Puisi dan Budaya Bugis


Abbonga bongaki ri pangkaukeng madecengnge, aja'na rilaleng makkijae. Attongeng tongekki ridecengnge aja'na ripangkaukeng masalae

Engkaki mancaji tau masagena mabbere makkuatopa mattarima, aja' taperrisiwi asagenangetta. Malappa atuongetta, mapaccing atitta

Riyissengngi ri esso wennie, riyisseng toi riyasengnge sifa'' adele'e. Tau iyye missengngi mannessani Naisseng

Tepu madecengngi sininna sewwa''e iyye purae irencana, makkotopa eganna tepu madeceng sewwa'' iyya de'e lairencana. Sininnaro pura natoro madeceng Puang sewwae

Sewwa'' iyye purae irencana de'e nasilennereng, makkotopa sewwa'' de'e narirencana silennereng, sabbarakengngi. Jancinna puangnge tania belle''

Iyya tau madecengnge, manyamengngi, amangngi, nenniya salamai ajokkangenna

Sewwa'' elo'e ipaddibola riyanu teppeddingngenatarima akkaleng, papole madecengngi nasibawai tongeng''. Sewwa'' de'e nairita pura mannessa engkai poleakki agi'' purae napparentang puang Allah ta'ala riyalena...

Suku To Balo (KABUPATEN BARRU)



Konon, dulu ada satu keluarga yang usil mengusik dua kuda belang jantan dan betina yang sedang kawin. Atas keusilan mereka itu, dewa pun marah dan mengutuk satu keluarga itu sehingga kulit tubuh mereka menjadi belang.

Karena malu kulit tubuh mereka belang, satu keluarga itu pun memilih untuk hidup terpencil di lereng gunung, jauh dari keramaian. Mereka berkembang biak di situ, membentuk komunitas yang memiliki budaya sendiri dan bahasa sendiri, disebut bahasa bentong.

Komunitas itu kemudian disebut To Balo dalam bahasa Bugis, yang berarti orang belang.

To Balo bermukim di desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, puluhan kilometer jaraknya dari kota Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Desa Bulo-bulo berada di lereng gunung Pao (bulu Pao) yang membentang antara wilayah Kabupaten Barru dan Kabupaten Pangkep.

Ciri khas To Balo memang terletak pada kulit tubuh mereka yang belang bewarna putih. Belang itu terdapat di kaki, badan, dan di dahi. Belang di dahi cukup unik karena bebentuk segitiga menyerupai Avatar.

Secara medis, belang pada kulit tubuh To Balo bukanlah kelainan melainkan pembawaan gen. Kalau mereka kawin sesama maka keturunannya juga akan belang, tapi kalau mereka kawin bukan sesama maka keturunannya ada kemungkinan tidak belang. Dan fakta sudah membuktikan, banyak To Balo yang menikah dengan orang luar, kulit tubuh keturunanya tidak belang.

Kini, To Balo masih eksis dengan komunitas kehidupan mereka. Jumlah mereka semakin sedikit. Mereka memang punya kepercayaan bahwa jumlah satu keluarga harus terdiri hanya dari 10 orang. Kalau lebih maka akan dibunuh atau dibuang ke tempat tertentu.

To Balo mencari penghidupan dari alam di lereng gunung dengan berkebun dan menjual hasil kebunnya. Banyak dari mereka yang telah berbaur dengan orang lain melalui pernikahan

Galigo I




Mali siparappe, malilu sipakaing
Sirebba tannga tessirebba pasorong
Padaidi pada elo, sipatuo sipatakkong
Siwata menre, tessirui no.

(Kita saling mengulurkan tangan ketika hanyut,
Kita saling menghidupkan karena kita seia sekata
Saling mengangkat dan tak saling menjatuhkan)
Berbeda pendapat, tetapi tidak menyebabkan adu kekuatan)

sumber: Mashadi Said (Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia)

Lontara


Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).


Konsonan

Buginese consonants.png

VOKAL

Buginese vowels.png

Jumat, 13 Januari 2012

FESTIVAL KERATON


Festival Keraton 2012 Digelar di Buton

Palembang, Sumsel - Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara akhirnya terpilih menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara VIII tahun 2012, kata Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara, Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari Kusmurtia, di Palembang, Minggu (28/11).

Dikatakannya, setelah terjadi kemufakatan raja dan sultan serta ketua lembaga adat, akhirnya Kesultanan Buton terpilih sebagai tuan rumah Festival Keraton Nusantara VIII tahun 2012.

Festival merupakan kegiatan rutin dua tahun sekali sebagai ajang silaturahmi raja dan sultan nusantara, katanya.

Menurut dia, berbagai kegiatan menjadi agenda rutin festival, seperti kirab agung, pagelaran seni dan musyawarah besar. Semua kegiatan diharapkan mampu menjadi ajang mempromosikan adat dan budaya kerajaan dan kesultanan nusantara, tambahnya.

Ia mengatakan, setelah mendapat persetujuan forum yang terdiri atas 155 utusan kesultanan, kerajaan dan lembaga adat maka disepakati Buton menjadi tuan rumah. Karenanya pataka langsung diserahkan Sultan Palembang Darussalam setelah sukses menyelenggarkan FKN VII, katanya.

Pantauan saat penentuan tuan rumah FKN VIII, sempat terjadi perbedaan pendapat. Awalnya sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan saat FKN VI di Gowa Sulawesi Selatan lalu, disepakati setelah dua kali festival di luar Pulau Jawa yang menjadi tuan rumah kesultanan di Jawa.

Kesultanan Kasepuhan Cirebon menyatakan siap menjadi tuan rumah, namun di tengah penentuan pilihan terjadi protes dari sejumlah raja dan sultan yang akhirnya menentukan Buton.

Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin mengatakan pemilihan Kesultanan Buton tersebut merupakan hasil pemilihan demokratis. Dengan disepakati tuan rumah festival keraton tahun 2012 itu secara otomatis kegiatan tersebut berakhir, katanya.

Iskandar menambahkan, pihaknya menilai kegiatan FKN VII yang berlangsung 26-28 November berjalan sukses. "Kami berharap kegiatan ini mampu mempererat silaturahim antar raja dan sultan, sehingga menjadi satu kesatuan serta mendukung penuh negara Indonesia," tambahnya. (Ant/OL-2)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More