This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 17 Maret 2012

Kapal Pesiar Temegah Didunia


The Royal Carribean International Salah Satu Kapal Pesiar Termegah Didunia

Wisata-JP : Sebagai kapal pesiar terbesar di dunia, The Royal Carribean International berhasil menyabet peringkat pertama. Kapal ini tidak sekedar mewah, tapi juga membawa sensasi kota di tengah laut. Bagaimana tidak, Anda bisa melakukan berbagai kegiatan di sini. Dari makan malam di restoran romantis, nonton bioskop 3 dimensi, sampai memanjat tebing. Pesiar ini juga menyediakan paket menarik untuk anak-anak yang bekerja sama dengan studio animasi Dreamworks. Bermain bersama Shrek atau Pinguins of Madagascar tentu bisa membuat anak Anda betah di kapal.
Kamar-kamar di pesiar ini memiliki standar hotel bintang lima yang menyediakan berbagai jenis kamar. Dari kamar dengan balkon sampai kamar yang dilengkapi dengan grand piano. Dijamin tidak akan menyesal berlayar dengan kapal yang bermuatan 5.400 penumpang ini, karena Anda bisa memaksimalkan setiap menit yang dihabiskan di sana.

Rabu, 18 Januari 2012

Syair, Puisi dan Budaya Bugis


Abbonga bongaki ri pangkaukeng madecengnge, aja'na rilaleng makkijae. Attongeng tongekki ridecengnge aja'na ripangkaukeng masalae

Engkaki mancaji tau masagena mabbere makkuatopa mattarima, aja' taperrisiwi asagenangetta. Malappa atuongetta, mapaccing atitta

Riyissengngi ri esso wennie, riyisseng toi riyasengnge sifa'' adele'e. Tau iyye missengngi mannessani Naisseng

Tepu madecengngi sininna sewwa''e iyye purae irencana, makkotopa eganna tepu madeceng sewwa'' iyya de'e lairencana. Sininnaro pura natoro madeceng Puang sewwae

Sewwa'' iyye purae irencana de'e nasilennereng, makkotopa sewwa'' de'e narirencana silennereng, sabbarakengngi. Jancinna puangnge tania belle''

Iyya tau madecengnge, manyamengngi, amangngi, nenniya salamai ajokkangenna

Sewwa'' elo'e ipaddibola riyanu teppeddingngenatarima akkaleng, papole madecengngi nasibawai tongeng''. Sewwa'' de'e nairita pura mannessa engkai poleakki agi'' purae napparentang puang Allah ta'ala riyalena...

Suku To Balo (KABUPATEN BARRU)



Konon, dulu ada satu keluarga yang usil mengusik dua kuda belang jantan dan betina yang sedang kawin. Atas keusilan mereka itu, dewa pun marah dan mengutuk satu keluarga itu sehingga kulit tubuh mereka menjadi belang.

Karena malu kulit tubuh mereka belang, satu keluarga itu pun memilih untuk hidup terpencil di lereng gunung, jauh dari keramaian. Mereka berkembang biak di situ, membentuk komunitas yang memiliki budaya sendiri dan bahasa sendiri, disebut bahasa bentong.

Komunitas itu kemudian disebut To Balo dalam bahasa Bugis, yang berarti orang belang.

To Balo bermukim di desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, puluhan kilometer jaraknya dari kota Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Desa Bulo-bulo berada di lereng gunung Pao (bulu Pao) yang membentang antara wilayah Kabupaten Barru dan Kabupaten Pangkep.

Ciri khas To Balo memang terletak pada kulit tubuh mereka yang belang bewarna putih. Belang itu terdapat di kaki, badan, dan di dahi. Belang di dahi cukup unik karena bebentuk segitiga menyerupai Avatar.

Secara medis, belang pada kulit tubuh To Balo bukanlah kelainan melainkan pembawaan gen. Kalau mereka kawin sesama maka keturunannya juga akan belang, tapi kalau mereka kawin bukan sesama maka keturunannya ada kemungkinan tidak belang. Dan fakta sudah membuktikan, banyak To Balo yang menikah dengan orang luar, kulit tubuh keturunanya tidak belang.

Kini, To Balo masih eksis dengan komunitas kehidupan mereka. Jumlah mereka semakin sedikit. Mereka memang punya kepercayaan bahwa jumlah satu keluarga harus terdiri hanya dari 10 orang. Kalau lebih maka akan dibunuh atau dibuang ke tempat tertentu.

To Balo mencari penghidupan dari alam di lereng gunung dengan berkebun dan menjual hasil kebunnya. Banyak dari mereka yang telah berbaur dengan orang lain melalui pernikahan

Galigo I




Mali siparappe, malilu sipakaing
Sirebba tannga tessirebba pasorong
Padaidi pada elo, sipatuo sipatakkong
Siwata menre, tessirui no.

(Kita saling mengulurkan tangan ketika hanyut,
Kita saling menghidupkan karena kita seia sekata
Saling mengangkat dan tak saling menjatuhkan)
Berbeda pendapat, tetapi tidak menyebabkan adu kekuatan)

sumber: Mashadi Said (Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia)

Lontara


Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).


Konsonan

Buginese consonants.png

VOKAL

Buginese vowels.png

Jumat, 13 Januari 2012

FESTIVAL KERATON


Festival Keraton 2012 Digelar di Buton

Palembang, Sumsel - Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara akhirnya terpilih menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara VIII tahun 2012, kata Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara, Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari Kusmurtia, di Palembang, Minggu (28/11).

Dikatakannya, setelah terjadi kemufakatan raja dan sultan serta ketua lembaga adat, akhirnya Kesultanan Buton terpilih sebagai tuan rumah Festival Keraton Nusantara VIII tahun 2012.

Festival merupakan kegiatan rutin dua tahun sekali sebagai ajang silaturahmi raja dan sultan nusantara, katanya.

Menurut dia, berbagai kegiatan menjadi agenda rutin festival, seperti kirab agung, pagelaran seni dan musyawarah besar. Semua kegiatan diharapkan mampu menjadi ajang mempromosikan adat dan budaya kerajaan dan kesultanan nusantara, tambahnya.

Ia mengatakan, setelah mendapat persetujuan forum yang terdiri atas 155 utusan kesultanan, kerajaan dan lembaga adat maka disepakati Buton menjadi tuan rumah. Karenanya pataka langsung diserahkan Sultan Palembang Darussalam setelah sukses menyelenggarkan FKN VII, katanya.

Pantauan saat penentuan tuan rumah FKN VIII, sempat terjadi perbedaan pendapat. Awalnya sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan saat FKN VI di Gowa Sulawesi Selatan lalu, disepakati setelah dua kali festival di luar Pulau Jawa yang menjadi tuan rumah kesultanan di Jawa.

Kesultanan Kasepuhan Cirebon menyatakan siap menjadi tuan rumah, namun di tengah penentuan pilihan terjadi protes dari sejumlah raja dan sultan yang akhirnya menentukan Buton.

Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin mengatakan pemilihan Kesultanan Buton tersebut merupakan hasil pemilihan demokratis. Dengan disepakati tuan rumah festival keraton tahun 2012 itu secara otomatis kegiatan tersebut berakhir, katanya.

Iskandar menambahkan, pihaknya menilai kegiatan FKN VII yang berlangsung 26-28 November berjalan sukses. "Kami berharap kegiatan ini mampu mempererat silaturahim antar raja dan sultan, sehingga menjadi satu kesatuan serta mendukung penuh negara Indonesia," tambahnya. (Ant/OL-2)

Pagelaran La Galigo di New York


Monumen Toddo'puli di Kota Palopo

Pagelaran Seni Bugis ‘I La Galigo’ Disambut Luar Biasa di New York
Kapanlagi.com - Hari pertama penampilan pertunjukan kesenian dari Bugis ‘I La Galigo’ di New York, Rabu malam mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat yang memadati Gedung Teater utama kompleks Lincoln Center.Sekitar 3000 penonton memenuhi kursi-kursi New York State Theater dan harus antri cukup panjang untuk membeli karcis seharga US$ 25 hingga US$ 150.
Selain dari New York, banyak penonton yang datang dari berbagai kota di AS seperti Washington DC, Boston dan Philadelphia
‘I La Galigo’, suatu gabungan karya drama, tari, musik tradisional dan puisi dari epik Bugis Kuno, tampil empat kali di Lincoln Center New York pada 13-16 Juli ini.
Sebanyak 50 penari dan pemain musik asal Indonesia tampil dalam pertunjukan selama tiga jam yang disutradarai Robert Wilson tersebut.
Menurut Nigel Redden, Direktur Lincoln Center Festival, kekuatan dari ‘I La Galigo’ sehingga dinantikan banyak orang bukan hanya karena nama besar Robert Wilson, namun juga mitos dalam kisah yang diangkat dari karya sastra bugis kuno (Sureq Galigo) tersebut.
“Orang ingin melihat bagaimana epik yang sering disebut sebagai yang terpanjang di dunia tersebut diangkat dalam suatu pertunjukan teater,” kata Redden.
Pemberitaan pers di New York mengenai ‘I La Galigo’, dalam sepekan terakhir ini juga mendorong penonton yang mengetahui lebih jauh mengenai epik yang naskah aslinya hanya bisa dimengerti oleh segelintir orang tersebut.
Sebelumnya I La Galigo juga mencatat sukses dalam penampilan di Singapura, Barcelona, Lyon dan Amsterdam.
Keberhasilan ini juga ditidak lepas dari kerja sama apik antara seniman Amerika dan Indonesia, diantaranya Rhoda Grauer untuk adaptasi teks, Rahayu Supanggah sebagai pengarah musik, dan Restu Kusumaningrum sebagai koordinator artistik.
Dalam pertunjukan tersebut, Robert Wilson tampaknya ingin membawa penonton dalam kesakralan I La Galigo dengan menghadirkan seorang pemimpin spiritual asli Bugis yang menjadi penutur kisah.
Tulisan-tulisan bugis kuno dari naskah Sureq Galigo pun dipampang dalam layar tranparan sebelum pertunjukan dimulai.
Sureq Galigo berisi tentang asal usul orang Bugis yang disebutkan masih keturunan dari dewa-dewa penguasa dunia atas dan dunia bawah.
Dikisahkan bahwa Sawerigading, anak penguasa dunia atas dan dunia bawah sebagai titisan Batara Guru, memiliki saudara kembar perempuan yang cantik jelita bernama We Tenriabeng.
Sawerigading ingin mengawini We Tentriabeng namun dilarang oleh kerajaan langit. We Tenriabeng kemudian menyarankan Sawerigading untuk meminang putri China, We Cudaiq, yang masih saudara sepupunya. Berangkatlah Sawerigading ke negeri China dengan membawa berbagai mas kawin.
Namun We Cudaiq ternyata melolak uluran cinta Sawerigading yang dinilai sebagai orang dari bangsa barbar. Cinta ditolak, Sawerigading pun marah dan dengan kesaktiannya langsung memporakporandakan negeri China.
Sebelum negerinya hancur, We Cudaiq pun terpaksa menerima pinangan dan akhirnya mereka mempunyai anak yang bernama I La Galigo. Namun karena memang awalnya tidak cinta, We Cudaiq kembali menampik Sawerigading dan anaknya.
I La Galigo pun dibesarkan oleh ayahnya dan tumbuh menjadi pemuda tampan dan berbudi. Ia menjadi tokoh yang kemudian memimpin kerajaan dunia tanpa ada lagi intervesi dari dewa-dewa penguasa dunia atas dan dunia bawah. (*/erl)
————————————————————
Selasa, 12 Juli 2005 09:23
‘Sureq Galigo’, Sastra Kuno Bugis yang Harus Terus Dilestarikan
Kapanlagi.com - ‘Sureq Galigo’, karya sastra kuno Bugis dari abad 14 Masehi, merupakan salah satu kekayaan budaya yang harus terus digali sehingga makin dikenal, baik oleh masyarakat internasional maupun masyarakat Indonesia sendiri.”Ini adalah harta karun yang amat berharga dan harus dilestarikan, jangan sampai nantinya punah atau dilupakan orang,” kata Rhoda Grauer, seorang seniman dan pembuat film asal Amerika Serikat di New York, Senin.
‘Sureq Galigo’ yang dikenal sebagai epik kuno terpanjang di dunia itu kini makin dikenal di dunia melalui pertunjukkan I La Galigo nama tokoh dalam epik tersebut.
Setelah sukses di Amsterdam, Singapura, Madrid, Barcelona, Lyon dan Ravenna, I La Galigo pada 13-16 Juli ini akan tampil di Lincoln Center New York yang selama ini dikenal selektif dan hanya menggelar karya-karya ‘berkelas’.
Grauer merupakan seniman yang ikut mendalami kekayaan khasanah ‘Sureq Galigo’ tersebut dan bersama sutradara Robert Wilson mengangkatnya menjadi suatu pertunjukkan besar.
Menurut Grauer, Pemerintah dan masyarakat Indonesia harus melakukan upaya agar ‘Sureq Galigo’ tidak sekedar naskah kuno yang tergeletak di museum.
Naskah ‘Sureq Galigo’ sendiri antara lain tersimpan di Museum Leiden, Belanda.
“Sekarang tidak banyak orang yang mengerti tulisan atau bahasa dari naskah ‘Sureq Galigo’, bahkan di Sulawasi Selatan sendiri,” kata Grauer yang dalam pertunjukkan I La Galigo sebagai penulis teks cerita.
Upaya menerjemahkan isi ‘Sureq Galigo’ secara lengkap perlu segera dilakukan, termasuk mencari manuskrip-manuskrip yang mungkin masih disimpan perorangan.
Selain itu perlu semacam pendidikan khusus bagi generasi muda Indonesia untuk mempelajari naskah kuno tentang asal usul orang Bugis tersebut. (*/erl)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More